Surat Panjang Perihal Kali Lamong

Surat Panjang Perihal Kali Lamong

Kepada: Bay Koma Suverior Sindrome

Sebelum kaubaca suratku ini, pastikan kau telah selesai buang air besar, Yu. Aku tahu kau suka sekali dengan yang satu itu. Sudah ada kopi? Rokok? Ah, syukurlah kalau begitu. Sekarang pejamkan matamu sejenak. Biarkan memorimu memilah sendiri mana yang akan menemanimu membaca surat ini. Karena tanpa hal itu, kau hanya buang-buang waktu dengan teks yang tak ubahnya seperti kebanyakan pembacaan pancasila dalam upacara tujuh belasan; Hambar tanpa penghayatan. Sudah? Baguslah. Kalau begitu, sebagai mukaddimah, biar kumulai dengan kalimat pujian ini:

Dengan menyebut nama Tuhan yang telah menciptakan kali Lamong sedemikian sunyi dan memelihara sejuta misteri, aku tulis sudah kenangan ini:

Di sana, di sungai itu, Yu, kita pernah mandi bersama. Kita mencoba meredam sengat kemarau yang memanggang. Kali Lamong itu, Yu, yang kemudian menghanyutkan pedih masing-masing kenyataan hidup kita yang semrawut. Kita mencari kicau burung yang bertengger pada batang elo. Buahnya, Yu. Kau ingat dongeng nenek, kan? Utek-utek Uugel maksudku. Kita selalu tertawa jika mengingatnya. Ya, kita tak ubahnya tokoh Uugel itu, Yu. Hanya saja, kita tidak kelaparan seperti si tokoh dongeng yang melegenda itu yang kemudian rakus memakan buah elo  hingga kekenyangan. Lantas ia merasakan haus yang luar biasa dan  meminum air sungai hingga kandas tak bersisa. Tidak, kita hanya ingin sejuk semata. Kita hanya ingin melupakan cita-cita yang kandas.

Cita-cita? Ah, kenapa pula membicarakan ini. Kita hanya ingin kesunyian itu sendiri. Kita hanya ingin melarungkan luka dan memadamkan bara hati yang menganga. Entah kenapa kau selalu terluka. Kau mudah sekali terluka, Yu. Atau jangan-jangan kau suka dengan luka? Kupikir aku berlebihan. Ah, tidak, tidak, kau memang manusia yang tercipta untuk selalu terluka. Aku tahu, kau tak punya tempat lagi. Kau tak lagi punya tempat berteduh. Kau tak lagi punya pangkuan di mana kau bisa bermanja menelungkupkan wajahmu di sana. Kau tak lagi bisa berlarian di gang-gang atau di pelataran kecuali orang akan mencibirmu. Kau tak lagi bisa menyanyi-nyanyi kecil di jalanan kecuali bertemu pasang mata yang menghinakanmu. Kau lari ke rumahku. Dan aku tahu kau hanya butuh seseorang yang mengertimu. Akhirnya, kita ke kali Lamong itu. Kau tancapkan dalam-dalam kepalamu pada kecipak air di sana  hingga tenggelam seluruh tubuhmu. Kau seakan menemukan pangkuan itu di sana. Kau seakan menemukan tempat meluruhkan wajahmu di sana. Dan, kau seolah-olah menjadi ada (kembali) karenanya.

"Cak, apa kau pernah terluka?" Katamu waktu kepalamu muncul di permukaan. Aku tertawa.

"Kaukira apa yang kulakukan berlama-lama di sini? Bahkan kau baru tahu jika sungai ini adalah keajaiban. Aku lebih dulu tahu, Yu. Aku lebih dulu terluka." Aku sekali lagi tertawa dan seekor biawak lari mencakar-cakar lumpur dan masuk lagi ke semak-semak.

"Kau punya cita-cita, Cak?" Lagi-lagi tertawa. Yah, aku tertawa saja tak menghiraukan pertanyaanmu. Aku tak lagi mengingat makhluk itu. Bahkan aku sudah melupakanya.

"Kau tahu, lebih baik, kau sekarang kuajari salto ke belakang" Kataku.

Kau hanya bisa salto ke depan waktu itu. Memalukan sekali, Yu. Dan kau tak lagi bertanya. Mungkin kau tahu, aku sedang berusaha mengalihkan pembicaraan yang tak lagi menarik untuk hari sesenja itu. Lama kau diam. Menyelam lagi.

Muncul lagi dan tenggelam lagi. Rupanya tahi hampir saja menubrukmu. Aku terkikik. Akhirnya kau lupa kalau sedang terluka. Itulah, Yu. Sekarang kau pasti mengerti betapa sungai itu sangat kurindukan. Kapan-kapan kita selesaikan pelajaran kita, salto ke belakang (hahaha...)

Kau masih membaca surat ini, kan, Yu? Kenapa kautertawa? Baiklah, lanjutkan saja...

Di sungai itu, yu. Ada kehidupan yang jika kautahu, kau akan berpikir alangkah menyesalnya menjadi manusia. Lalu kau mulai bertanya-tanya kenapa kau tidak diciptakan sebagai ikan saja? Ini belum pernah kusampaikan padamu. Aku pikir, kau harus menguasai salto ke belakang dulu sebelum menyadari hal ini; memasuki dunia kali yang sesungguhnya. Itulah sebabnya aku menjadi gila berendam di sana. Mengambil napas serakah, lalu memerosotkan diri ke dasar sungai hingga kurasai kerikil menyentuh kakiku. Kalau sudah begitu, aku akan melepas semua fungsi tubuhku. Melepas apa-apa yang ada.  Aku benar-benar diam seperti mayat. Tentu saja aku dibawa arus entah ke mana. Biar saja. Dalam diam itu, Yu, aku mendengar degup jantung semesta. Aku merasai denyar nadinya. Aku baui segala aroma aneh yang menguar di dasarnya.

Suatu saat, kita akan melakukan ini bersama-sama. Kita masuki dunia Lamong, mendekam pasrah di dasarnya seperti bayi pada rahim ibunya. Setelah kau merasa ada yang mendesak-desak jantungmu dan dadamu kembung kempis, kau boleh menyembul ke permukaan. Saat itu, mungkin matamu akan terasa sedikit gatal dan banyak kunang-kunang yang terbang di sekeliling kepala. Tapi itu hanya sebentar. Percayalah. Dapatkan oksigenmu kembali dan kau akan baik-baik saja. Seperti juga aku, kau akan merasa terlahir kembali sebagai mana bayi dengan dunia barunya. Bebas. Merdeka. Lepas. Semua terasa ringan dan apa-apa yang ada di sekelilingmu seolah tersenyum padamu, buah elo apa lagi. Semua akan menjadi baik setelah itu. Kecuali kepalamu akan terasa sedikit pening oleh beberapa tetes air yang masuk paksa lewat hidung atau bahkan telinga. Ini bukan berarti apa-apa, Yu. Hanya saja kau akan mendengar 'dung...dung...dung' jika kau berjalan atau jika kaupukul kepalamu pelan- pelan. Ini sangat biasa dan kau akan menikmatinya sebagai seni musik yang paling alami di kemudian hari.

Namun, ini tidak akan lama, Yu. Setelah kau menyadari kau tidak lagi di sungai, kau akan kembali lagi pada mula; kembali menjadi manusia. Kecewa, marah, terhina, sedih, terkucil, nelangsa, menangis akan mengisi hari-harimu kembali. Pesanku, terbiasalah.!

Apa? Kau ingin jadi ikan katamu? Oh, jangan berkata seperti itu, kau harus tetap jadi manusia. Lagipula tidak enak juga jadi ikan. Kau tahu, Sudono, kan? Apa kau ingin mati di tangan pemburu ikan terkenal seperti dia? Sudah kukatakan padamu, menjalani ini kau akan mengutuk diri sebagai manusia. Tapi bukan berarti kau harus ingkar nikmat tuhanmu bukan? Tuhan ada rahasia yang tak kauketahui. Sudah semestinya kau berlapang dada. Menyerah secara total dan mengakui kehebatanya. Memang, sekali-kali tuhan perlu menunjukan ke-maha-otoriter-anNya. Bukan untuk menyusahkanmu, bukan, tapi semata-semata ingin kau mengenal dan merasai kehadiranya. Eh, kenapa aku mendadak mengguruimu? Maaf aku tak bermaksud begitu.

Lamong, adalah makhluk terindah -- kalau ajaib terlalu berlebihan. Tapi begitulah kenyataanya. Aku tahu, sejak kau membaca surat ini, pasti kau sudah tak sabar ingin berendam di sana. Dengan sekali tarikan napas, kau akan diajak masuk dalam kedamaian. Kau merasa ditimang tuhan ketika kau lepas segalanya dan mengikuti kemana arus akan membawa tubuhmu sampai kau tersedak dan (mangap-mangap) di permukaan. Hidup, kau tahu, Yu? tak ubahnya setarikan napasmu. Berendam sekian menit lalu usai. Ya, usai. Itulah kehidupan.

Betapa Lamong telah banyak mengajari kita tentang kehidupan. Kali Lamong kita, Yu. Kau pasti merindukanya.

Kau selesai membacanya, kan, Yu?

Jombang, 16 Sept.



0 komentar: