Kupulangkan Rindu pada Tengah Malam
Motor merayap dalam kegelapan setelah melewati pasar Kambangan. Hanya beberapa anak muda yang terlihat bergerombol memainkan gitar. Malam dingin begini mereka asik meneriakan lagu Iwan Fals yang setelah kuingangt-ingat berjudul 'Ujung Aspal Pondok Gede'. Mendadak ada sesuatu meriap dalam hatiku. Beberapa lirik lagunya larat-larat menyayat membangunkan kenangan dulu:
Di kamar ini aku dilahirkan
Di bale bambu buah tangan bapakku
Di rumah ini aku dibesarkan
Dibelai mesra lentik jari ibuku
Nama dusunku ujung aspal pondok gede
Rimbun dan anggun
Ramah senyum penghuni dusun...
Tiba-tiba aku teringat bapak. Mungkin saat ini sedang membuat 'widik' --anyaman bambu selebar setengah kali satu meter untuk menjemur tembakau rajangan. Kemudian ibu. Mungkin sekarang sedang lelap-lelapnya tidur dan akan bangun ketika tarkhim terdengar dari toa. Setelah itu menyiapkan sarapan untuk beberapa pekerja pemetik tembakau esok nanti. Entah kenapa aku senyum-senyum sendiri padahal tubuhku terasa menggigil dan pandanganku sedikit kabur. Kepalaku terasa berat dan mendadak bersin-bersin.
Aku tak bisa mencium bau tembakau jika dalam keadaan flu begini. Ini menyiksa sekali. Bukan karena pening kepalaku, bukan. Kau tahu, aku selalu menunggu saat yang tepat untuk pulang. Saat-saat di mana tembakau basah di jemur tak beraturan di sana-sani. Baunya akan menguar kuat bahkan seratus meter di luar desa. Ini yang kurindu dan celakanya aku lupa, angin selatan akan menggempur daya tahan tubuhku. Benar saja. Sekarang aku merasa ada sesuatu yang menggumpal dalam kepalaku. Aku lupa obatku. Ah, seharusnya aku menyiapkan jauh-jauh sebelum keberangkatanku. Tidak, sebenarnya aku sudah menyiapkan obat itu di tas pinggang tapi aku lupa membawanya. Sudahlah.
Jalanan mulai sepi dan terasa sedikit bergerak. Lampu motorku tak begitu tajam, hanya beberapa meter ke depan. Setidaknya aku tahu mana lubang dan mana bongkahan batu. Suasana benar-benar sepi. Sejenak kurasakan punggungku ngilu dan agak hangat. Angin selatan yang begitu kencang sedikit membuat kepalaku pusing.
Disamping flu juga helm yang terus bergerak-gerak jika kutarik gasku sedikit lebih kencang. Aku teringat kata temanku untuk membeli helm yang pas dengan ukuran kepalaku. Saat itu aku tak merasa hal itu penting. Lagi pula tak ada anggaran untuk beli itu. Namun sekarang, aku benar-benar membutuhkan helm yang pas dengan kepala. Pasti hangat, pikirku. Udara dingin bahkan masuk lewat celah kaca depan yang mulai mengembun. Wajahku pias. Menggigil dan berharap segera sampai di rumah.
Sebenarnya aku bisa menunggu besok pagi untuk pulang. Tapi aku bakal ketinggalan memanen tembakau. Bapak juga tak akan setuju jika tahu aku pulang tengah malam begini. Apalagi ibu. Tapi dasar aku keras kepala. Beberapa waktu sebelum berangkat kerja tadi adik memberi kabar via sms. Besok bapak panen, tulisnya singkat. Biasanya kalau sudah seperti itu aku langsung menelpon. Atau dengan cepat kubalas 'ya'. Aku tahu ini bukan perintah seperti sepuluh tahunan yang lalu. Ini lebih kepada bentuk rindu orang tua kepada anaknya. Aku merasakan itu.
Jalanan benar-benar lengang. Dari kejauhan, di tengah-tengah sawah kulihat sorot lampu. Seseorang sedang mencari sesuap makan. Selarut ini, sesepi ini, sedingin ini. Entah apa yang ia buru. Kodok tidak musimnya, belalang apa lagi. Ular, ya, ular. Mendadak aku teringat warga desa tetangga yang mati dipatok ular sewaktu berburu. Waktu itu aku masih kecil. Belum tahu apa-apa kecuali bau nasi dan sambal. Aku tanyakan pada ibu kenapa orang dewasa mengumpulkan ular.
"Itu pekerjaanya sejak dulu, Nak"
"Kenapa tidak mencangkul di sawah seperti bapak?"
"Tentu saja ia mencangkul seperti bapakmu"
"Tapi bapak tidak memburu ular"
"Iya, bersukurlah bapakmu tak sampai melakukan itu. Setidaknya sekarang"
"Aku tidak ingin bapak memburu ular"
"Ya, bapak tidak akan melakukan itu. Sekarang tidurlah"
Betapa aku tersenyum sendiri mengingat itu. Dan benar, bapak tidak sampai melakukan itu untuk menyambung hidup. Kami berkecukupan dengan sepetak sawah. Meski tidak jarang, malam-malam, untuk mencukupi kebutuhan keluarga, bapak mencari tambahan dengan bekerja sebagai kuli timbang ayam di peternakan milik seorang warga yang cukup terpandang dan sukses. Gajinya tidak seberapa tapi untuk makan sehari dua hari cukuplah. Aku masih ingat ketika pagi, akan berangkat sekolah, aku minta uang pembayaran semester kepada ibu. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas dua Tsanawiyah. Ibu hanya melihat bapak yang sedang duduk menyruput kopinya di ruang depan. Aku melihat mata ibu berair. Tipis sekali seperti embun yang melumuri daun daun mangga depan rumah.
Dari kejauhan kerlip lampu ternak ayam terlihat seperti bintang-bintang yang lelah. Juga sorot kecil lampu warung Mak Tum lebih sayu lagi. Jalanan sudah berpaving dan kulaju sedikit cepat. Ketika sampai di depan warung kupelankan motorku barangkali ada teman yang masih begadang di sana. Ternyata sudah tutup dan tak ada kehidupan di sana. Sunyi sekali. Di sini aku pernah begadang sampai subuh. Main gitar sambil menyanyi bersama. Teman-teman aku rindu semua tentang kalian. Tiba-tiba lagu Iwan Fals berdengung kembali di kepalaku. Kamii suka sekali lagu itu. Dulu kami sering menyanyikanya di sini. Ujung Aspal Pondok Gede itu telah membangkitkan rasa cintaku kepada kampung halaman. Entahlah.
Mendengarnya hatiku tersayat dan berjubel rasa yang tidak bisa kutulis sekarang. Sementara aku melaju ke utara dan warung Mak Tum terlihat kecil sekali meringkuk ngantuk di belakang sana. Melewati gapura. Angin selatan mendorong punggungku kencang. Ada yang aneh. Hamparan sawah tepat berbatasan dengan desa yang biasa dipakai penduduk menjemur tembakau lengang. Tak ada satupun yang menghuninya. Benar saja dari tadi tak kucium baunya. Ini kemarau. Aku meyakinkan diriku sendiri. Lalu di mana tembakau-tembakau itu? Apa musim panen sudah usai?
Balai desa terlihat lebih besar jika malam-malam begini. Terlihat ia baru direnovasi. Pilarnya besar dan kuat. Pasti makmur desaku akhir-akhir ini. Aku benar-benar merasa tertipu oleh anganku sendiri. Sepanjang jalan tak kutemui satu pun jemuran tembakau. Ini kemarau. Tekanku dalam batin. Tidak, tidak, lalu ke mana tembakau-tembakau itu.
Masjid tetap tak berubah sejak dulu. Hanya sekarang ada menara toa di samping kanan. Entah kapan dibangun. Tepat di depan masjid meringkuk sebuah rumah yang merunduk malu-malu. Bangunanya sudah sedemikian menyedihkan. Sebenarnya, sudah begitu sejak dulu. Namun sekarang lebih rapuh di makan usia. Barangkali rumah itu tidak pernah ada dalam denah desa. Selama ini bangunan itu dianggap suwung meski dihuni tiga nyawa.
Melewati inpres kusempatkan berhenti sejenak. Aku terpaku. Betapa kecil halaman itu sekarang. Dulu meski berdiri rindang pohon trembesi halaman itu tetap luas seolah siap menampung semua anak-anak satu desa. Berlari dari sisi barat ke utara atau sebaliknya sudah ngos-ngosan. Sekarang menjadi ciut sepelemparan batu saja. Tiba-tiba pertanyaan muncul begitu saja, apakah halaman ini masih ramai dengan segala jenis permainan? Seperti aku dulu dengan teman-teman? Ah, semoga saja mereka lebih memilih bermain di lapangan luas ini dari pada layar gadget yang sempit itu. Semoga.
Kustandarkan motorku di bawah pohon mangga depan rumahku. Duduk di amben yang rasa-rasanya kecil sekali mengingat dulu tempatku bercanda dengan adik-adikku. Ah, kenapa yang luas dulu menjadi demikian sempit sekarang. Kenapa yang besar menjadi kecil sekali sekarang. Jam sudah merangkak ke angka satu sedang suasana desaku begitu ngilu. Sekonyong-konyong mataku menatap semburat cahaya di nun jauh timur sana.
Cahaya itu begitu terang dan putih gemerlapan. Tak mungkin ini fajar, pikirku. Aku berdiri dan melangkah ke jalan, ke timur dan terlihatlah jelas dari mana asal cahaya itu memancar. Bangunan raksasa yang bercahaya sedang berdiri angkuh menatap desaku sekarang. Aku tertegun sejenak, bukan takjub. Hanya benar apa yang dikatakan ibu sewaktu kutelpon beberapa bulan yang lalu. Pabrik telah selesai dibangun sekarang, desa kita menjadi ramai, katanya waktu itu dengan luguhnya. Namun lebih terdengar sebuah kebanggaan dari pada ancaman. Aku tertunduk diam. Ada rasa yang berloncatan di hatiku yang tak bisa kuterjemahkan. Pertanda apakah ini. Mendadak dada sebelah kiriku nyeri.
Kembali ke ambin dan kurebahkan tubuhku. Dingin semakin menggigit dan daun mangga berisik menimbulkan suara aneh lebih mirip elegi. Kutengok sejenak cahaya pabrik itu sebelum akhirnya kupejamkan mataku. Antara sadar dan tidak. Entah mimpi entah nyata, untuk ketiga kalinya lagu Iwan Fals hadir. Hanya saja ini lebih menyayat lagi:
Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langka hewan bernyanyi...
Jombang, 26 Oktober '16
Posted via Blogaway


0 komentar: