Surat Panjang Perihal Kali Lamong

0 komentar

Surat Panjang Perihal Kali Lamong

Kepada: Bay Koma Suverior Sindrome

Sebelum kaubaca suratku ini, pastikan kau telah selesai buang air besar, Yu. Aku tahu kau suka sekali dengan yang satu itu. Sudah ada kopi? Rokok? Ah, syukurlah kalau begitu. Sekarang pejamkan matamu sejenak. Biarkan memorimu memilah sendiri mana yang akan menemanimu membaca surat ini. Karena tanpa hal itu, kau hanya buang-buang waktu dengan teks yang tak ubahnya seperti kebanyakan pembacaan pancasila dalam upacara tujuh belasan; Hambar tanpa penghayatan. Sudah? Baguslah. Kalau begitu, sebagai mukaddimah, biar kumulai dengan kalimat pujian ini:

Dengan menyebut nama Tuhan yang telah menciptakan kali Lamong sedemikian sunyi dan memelihara sejuta misteri, aku tulis sudah kenangan ini:

Di sana, di sungai itu, Yu, kita pernah mandi bersama. Kita mencoba meredam sengat kemarau yang memanggang. Kali Lamong itu, Yu, yang kemudian menghanyutkan pedih masing-masing kenyataan hidup kita yang semrawut. Kita mencari kicau burung yang bertengger pada batang elo. Buahnya, Yu. Kau ingat dongeng nenek, kan? Utek-utek Uugel maksudku. Kita selalu tertawa jika mengingatnya. Ya, kita tak ubahnya tokoh Uugel itu, Yu. Hanya saja, kita tidak kelaparan seperti si tokoh dongeng yang melegenda itu yang kemudian rakus memakan buah elo  hingga kekenyangan. Lantas ia merasakan haus yang luar biasa dan  meminum air sungai hingga kandas tak bersisa. Tidak, kita hanya ingin sejuk semata. Kita hanya ingin melupakan cita-cita yang kandas.

Cita-cita? Ah, kenapa pula membicarakan ini. Kita hanya ingin kesunyian itu sendiri. Kita hanya ingin melarungkan luka dan memadamkan bara hati yang menganga. Entah kenapa kau selalu terluka. Kau mudah sekali terluka, Yu. Atau jangan-jangan kau suka dengan luka? Kupikir aku berlebihan. Ah, tidak, tidak, kau memang manusia yang tercipta untuk selalu terluka. Aku tahu, kau tak punya tempat lagi. Kau tak lagi punya tempat berteduh. Kau tak lagi punya pangkuan di mana kau bisa bermanja menelungkupkan wajahmu di sana. Kau tak lagi bisa berlarian di gang-gang atau di pelataran kecuali orang akan mencibirmu. Kau tak lagi bisa menyanyi-nyanyi kecil di jalanan kecuali bertemu pasang mata yang menghinakanmu. Kau lari ke rumahku. Dan aku tahu kau hanya butuh seseorang yang mengertimu. Akhirnya, kita ke kali Lamong itu. Kau tancapkan dalam-dalam kepalamu pada kecipak air di sana  hingga tenggelam seluruh tubuhmu. Kau seakan menemukan pangkuan itu di sana. Kau seakan menemukan tempat meluruhkan wajahmu di sana. Dan, kau seolah-olah menjadi ada (kembali) karenanya.

"Cak, apa kau pernah terluka?" Katamu waktu kepalamu muncul di permukaan. Aku tertawa.

"Kaukira apa yang kulakukan berlama-lama di sini? Bahkan kau baru tahu jika sungai ini adalah keajaiban. Aku lebih dulu tahu, Yu. Aku lebih dulu terluka." Aku sekali lagi tertawa dan seekor biawak lari mencakar-cakar lumpur dan masuk lagi ke semak-semak.

"Kau punya cita-cita, Cak?" Lagi-lagi tertawa. Yah, aku tertawa saja tak menghiraukan pertanyaanmu. Aku tak lagi mengingat makhluk itu. Bahkan aku sudah melupakanya.

"Kau tahu, lebih baik, kau sekarang kuajari salto ke belakang" Kataku.

Kau hanya bisa salto ke depan waktu itu. Memalukan sekali, Yu. Dan kau tak lagi bertanya. Mungkin kau tahu, aku sedang berusaha mengalihkan pembicaraan yang tak lagi menarik untuk hari sesenja itu. Lama kau diam. Menyelam lagi.

Muncul lagi dan tenggelam lagi. Rupanya tahi hampir saja menubrukmu. Aku terkikik. Akhirnya kau lupa kalau sedang terluka. Itulah, Yu. Sekarang kau pasti mengerti betapa sungai itu sangat kurindukan. Kapan-kapan kita selesaikan pelajaran kita, salto ke belakang (hahaha...)

Kau masih membaca surat ini, kan, Yu? Kenapa kautertawa? Baiklah, lanjutkan saja...

Di sungai itu, yu. Ada kehidupan yang jika kautahu, kau akan berpikir alangkah menyesalnya menjadi manusia. Lalu kau mulai bertanya-tanya kenapa kau tidak diciptakan sebagai ikan saja? Ini belum pernah kusampaikan padamu. Aku pikir, kau harus menguasai salto ke belakang dulu sebelum menyadari hal ini; memasuki dunia kali yang sesungguhnya. Itulah sebabnya aku menjadi gila berendam di sana. Mengambil napas serakah, lalu memerosotkan diri ke dasar sungai hingga kurasai kerikil menyentuh kakiku. Kalau sudah begitu, aku akan melepas semua fungsi tubuhku. Melepas apa-apa yang ada.  Aku benar-benar diam seperti mayat. Tentu saja aku dibawa arus entah ke mana. Biar saja. Dalam diam itu, Yu, aku mendengar degup jantung semesta. Aku merasai denyar nadinya. Aku baui segala aroma aneh yang menguar di dasarnya.

Suatu saat, kita akan melakukan ini bersama-sama. Kita masuki dunia Lamong, mendekam pasrah di dasarnya seperti bayi pada rahim ibunya. Setelah kau merasa ada yang mendesak-desak jantungmu dan dadamu kembung kempis, kau boleh menyembul ke permukaan. Saat itu, mungkin matamu akan terasa sedikit gatal dan banyak kunang-kunang yang terbang di sekeliling kepala. Tapi itu hanya sebentar. Percayalah. Dapatkan oksigenmu kembali dan kau akan baik-baik saja. Seperti juga aku, kau akan merasa terlahir kembali sebagai mana bayi dengan dunia barunya. Bebas. Merdeka. Lepas. Semua terasa ringan dan apa-apa yang ada di sekelilingmu seolah tersenyum padamu, buah elo apa lagi. Semua akan menjadi baik setelah itu. Kecuali kepalamu akan terasa sedikit pening oleh beberapa tetes air yang masuk paksa lewat hidung atau bahkan telinga. Ini bukan berarti apa-apa, Yu. Hanya saja kau akan mendengar 'dung...dung...dung' jika kau berjalan atau jika kaupukul kepalamu pelan- pelan. Ini sangat biasa dan kau akan menikmatinya sebagai seni musik yang paling alami di kemudian hari.

Namun, ini tidak akan lama, Yu. Setelah kau menyadari kau tidak lagi di sungai, kau akan kembali lagi pada mula; kembali menjadi manusia. Kecewa, marah, terhina, sedih, terkucil, nelangsa, menangis akan mengisi hari-harimu kembali. Pesanku, terbiasalah.!

Apa? Kau ingin jadi ikan katamu? Oh, jangan berkata seperti itu, kau harus tetap jadi manusia. Lagipula tidak enak juga jadi ikan. Kau tahu, Sudono, kan? Apa kau ingin mati di tangan pemburu ikan terkenal seperti dia? Sudah kukatakan padamu, menjalani ini kau akan mengutuk diri sebagai manusia. Tapi bukan berarti kau harus ingkar nikmat tuhanmu bukan? Tuhan ada rahasia yang tak kauketahui. Sudah semestinya kau berlapang dada. Menyerah secara total dan mengakui kehebatanya. Memang, sekali-kali tuhan perlu menunjukan ke-maha-otoriter-anNya. Bukan untuk menyusahkanmu, bukan, tapi semata-semata ingin kau mengenal dan merasai kehadiranya. Eh, kenapa aku mendadak mengguruimu? Maaf aku tak bermaksud begitu.

Lamong, adalah makhluk terindah -- kalau ajaib terlalu berlebihan. Tapi begitulah kenyataanya. Aku tahu, sejak kau membaca surat ini, pasti kau sudah tak sabar ingin berendam di sana. Dengan sekali tarikan napas, kau akan diajak masuk dalam kedamaian. Kau merasa ditimang tuhan ketika kau lepas segalanya dan mengikuti kemana arus akan membawa tubuhmu sampai kau tersedak dan (mangap-mangap) di permukaan. Hidup, kau tahu, Yu? tak ubahnya setarikan napasmu. Berendam sekian menit lalu usai. Ya, usai. Itulah kehidupan.

Betapa Lamong telah banyak mengajari kita tentang kehidupan. Kali Lamong kita, Yu. Kau pasti merindukanya.

Kau selesai membacanya, kan, Yu?

Jombang, 16 Sept.



Read More »

Kupulangkan Rindu pada Tengah Malam

0 komentar






Motor merayap dalam kegelapan setelah melewati pasar Kambangan. Hanya beberapa anak muda yang terlihat bergerombol memainkan gitar. Malam dingin begini mereka asik meneriakan lagu Iwan Fals yang setelah kuingangt-ingat berjudul 'Ujung Aspal Pondok Gede'. Mendadak ada sesuatu meriap dalam hatiku. Beberapa lirik lagunya larat-larat menyayat membangunkan kenangan dulu:


Di kamar ini aku dilahirkan
Di bale bambu buah tangan bapakku
Di rumah ini aku dibesarkan
Dibelai mesra lentik jari ibuku
Nama dusunku ujung aspal pondok gede
Rimbun dan anggun
Ramah senyum penghuni dusun...


Tiba-tiba aku teringat bapak. Mungkin saat ini sedang membuat 'widik' --anyaman bambu selebar setengah kali satu meter untuk menjemur tembakau rajangan. Kemudian ibu. Mungkin sekarang sedang lelap-lelapnya tidur dan akan bangun ketika tarkhim terdengar dari toa. Setelah itu menyiapkan sarapan untuk beberapa pekerja pemetik tembakau esok nanti. Entah kenapa aku senyum-senyum sendiri padahal tubuhku terasa menggigil dan pandanganku sedikit kabur. Kepalaku terasa berat dan mendadak bersin-bersin.


Aku tak bisa mencium bau tembakau jika dalam keadaan flu begini. Ini menyiksa sekali. Bukan karena pening kepalaku, bukan. Kau tahu, aku selalu menunggu saat yang tepat untuk pulang. Saat-saat di mana tembakau basah di jemur tak beraturan di sana-sani. Baunya akan menguar kuat bahkan seratus meter di luar desa. Ini yang kurindu dan celakanya aku lupa, angin selatan akan menggempur daya tahan tubuhku. Benar saja. Sekarang aku merasa ada sesuatu yang menggumpal dalam kepalaku. Aku lupa obatku. Ah, seharusnya aku menyiapkan jauh-jauh sebelum keberangkatanku. Tidak, sebenarnya aku sudah menyiapkan obat itu di tas pinggang tapi aku lupa membawanya. Sudahlah.


Jalanan mulai sepi dan terasa sedikit bergerak. Lampu motorku tak begitu tajam, hanya beberapa meter ke depan. Setidaknya aku tahu mana lubang dan mana bongkahan batu. Suasana benar-benar sepi. Sejenak kurasakan punggungku ngilu dan agak hangat. Angin selatan yang begitu kencang sedikit membuat kepalaku pusing.


Disamping flu juga helm yang terus bergerak-gerak jika kutarik gasku sedikit lebih kencang. Aku teringat kata temanku untuk membeli helm yang pas dengan ukuran kepalaku. Saat itu aku tak merasa hal itu penting. Lagi pula tak ada anggaran untuk beli itu. Namun sekarang, aku benar-benar membutuhkan helm yang pas dengan kepala. Pasti hangat, pikirku. Udara dingin bahkan masuk lewat celah kaca depan yang mulai mengembun. Wajahku pias. Menggigil dan berharap segera sampai di rumah.


Sebenarnya aku bisa menunggu besok pagi untuk pulang. Tapi aku bakal ketinggalan memanen tembakau. Bapak juga tak akan setuju jika tahu aku pulang tengah malam begini. Apalagi ibu. Tapi dasar aku keras kepala. Beberapa waktu sebelum berangkat kerja tadi adik memberi kabar via sms. Besok bapak panen, tulisnya singkat. Biasanya kalau sudah seperti itu aku langsung menelpon. Atau dengan cepat kubalas 'ya'. Aku tahu ini bukan perintah seperti sepuluh tahunan yang lalu. Ini lebih kepada bentuk rindu orang tua kepada anaknya. Aku merasakan itu.


Jalanan benar-benar lengang. Dari kejauhan, di tengah-tengah sawah kulihat sorot lampu. Seseorang sedang mencari sesuap makan. Selarut ini, sesepi ini, sedingin ini. Entah apa yang ia buru. Kodok tidak musimnya, belalang apa lagi. Ular, ya, ular. Mendadak aku teringat warga desa tetangga yang mati dipatok ular sewaktu berburu. Waktu itu aku masih kecil. Belum tahu apa-apa kecuali bau nasi dan sambal. Aku tanyakan pada ibu kenapa orang dewasa mengumpulkan ular.


"Itu pekerjaanya sejak dulu, Nak"

"Kenapa tidak mencangkul di sawah seperti bapak?"

"Tentu saja ia mencangkul seperti bapakmu"

"Tapi bapak tidak memburu ular"

"Iya, bersukurlah bapakmu tak sampai melakukan itu. Setidaknya sekarang"

"Aku tidak ingin bapak memburu ular"

"Ya, bapak tidak akan melakukan itu. Sekarang tidurlah"


Betapa aku tersenyum sendiri mengingat itu. Dan benar, bapak tidak sampai melakukan itu untuk menyambung hidup. Kami berkecukupan dengan sepetak sawah. Meski tidak jarang, malam-malam, untuk mencukupi kebutuhan keluarga, bapak mencari tambahan dengan bekerja sebagai kuli timbang ayam di peternakan milik seorang warga yang cukup terpandang dan sukses. Gajinya tidak seberapa tapi untuk makan sehari dua hari cukuplah. Aku masih ingat ketika pagi, akan berangkat sekolah, aku minta uang pembayaran semester kepada ibu. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas dua Tsanawiyah. Ibu hanya melihat bapak yang sedang duduk menyruput kopinya di ruang depan. Aku melihat mata ibu berair. Tipis sekali seperti embun yang melumuri daun daun mangga depan rumah.


Dari kejauhan kerlip lampu ternak ayam terlihat seperti bintang-bintang yang lelah. Juga sorot kecil lampu warung Mak Tum lebih sayu lagi. Jalanan sudah berpaving dan kulaju sedikit cepat. Ketika sampai di depan warung kupelankan motorku barangkali ada teman yang masih begadang di sana. Ternyata sudah tutup dan tak ada kehidupan di sana. Sunyi sekali. Di sini aku pernah begadang sampai subuh. Main gitar sambil menyanyi bersama. Teman-teman aku rindu semua tentang kalian. Tiba-tiba lagu Iwan Fals berdengung kembali di kepalaku. Kamii suka sekali lagu itu. Dulu kami sering menyanyikanya di sini. Ujung Aspal Pondok Gede itu telah membangkitkan rasa cintaku kepada kampung halaman. Entahlah.


Mendengarnya hatiku tersayat dan berjubel rasa yang tidak bisa kutulis sekarang. Sementara aku melaju ke utara dan warung Mak Tum terlihat kecil sekali meringkuk ngantuk di belakang sana. Melewati gapura. Angin selatan mendorong punggungku kencang. Ada yang aneh. Hamparan sawah tepat berbatasan dengan desa yang biasa dipakai penduduk menjemur tembakau lengang. Tak ada satupun yang menghuninya. Benar saja dari tadi tak kucium baunya. Ini kemarau. Aku meyakinkan diriku sendiri. Lalu di mana tembakau-tembakau itu? Apa musim panen sudah usai?


Balai desa terlihat lebih besar jika malam-malam begini. Terlihat ia baru direnovasi. Pilarnya besar dan kuat. Pasti makmur desaku akhir-akhir ini. Aku benar-benar merasa tertipu oleh anganku sendiri. Sepanjang jalan tak kutemui satu pun jemuran tembakau. Ini kemarau. Tekanku dalam batin. Tidak, tidak, lalu ke mana tembakau-tembakau itu.


Masjid tetap tak berubah sejak dulu. Hanya sekarang ada menara toa di samping kanan. Entah kapan dibangun. Tepat di depan masjid meringkuk sebuah rumah yang merunduk malu-malu. Bangunanya sudah sedemikian menyedihkan. Sebenarnya, sudah begitu sejak dulu. Namun sekarang lebih rapuh di makan usia. Barangkali rumah itu tidak pernah ada dalam denah desa. Selama ini bangunan itu dianggap suwung meski dihuni tiga nyawa.


Melewati inpres kusempatkan berhenti sejenak. Aku terpaku. Betapa kecil halaman itu sekarang. Dulu meski berdiri rindang pohon trembesi halaman itu tetap luas seolah siap menampung semua anak-anak satu desa. Berlari dari sisi barat ke utara atau sebaliknya sudah ngos-ngosan. Sekarang menjadi ciut sepelemparan batu saja. Tiba-tiba pertanyaan muncul begitu saja, apakah halaman ini masih ramai dengan segala jenis permainan? Seperti aku dulu dengan teman-teman? Ah, semoga saja mereka lebih memilih bermain di lapangan luas ini dari pada layar gadget yang sempit itu. Semoga.


Kustandarkan motorku di bawah pohon mangga depan rumahku. Duduk di amben yang rasa-rasanya kecil sekali mengingat dulu tempatku bercanda dengan adik-adikku. Ah, kenapa yang luas dulu menjadi demikian sempit sekarang. Kenapa yang besar menjadi kecil sekali sekarang. Jam sudah merangkak ke angka satu sedang suasana desaku begitu ngilu. Sekonyong-konyong mataku menatap semburat cahaya di nun jauh timur sana.


Cahaya itu begitu terang dan putih gemerlapan. Tak mungkin ini fajar, pikirku. Aku berdiri dan melangkah ke jalan, ke timur dan terlihatlah jelas dari mana asal cahaya itu memancar. Bangunan raksasa yang bercahaya sedang berdiri angkuh menatap desaku sekarang. Aku tertegun sejenak, bukan takjub. Hanya benar apa yang dikatakan ibu sewaktu kutelpon beberapa bulan yang lalu. Pabrik telah selesai dibangun sekarang, desa kita menjadi ramai, katanya waktu itu dengan luguhnya. Namun lebih terdengar sebuah kebanggaan dari pada ancaman. Aku tertunduk diam. Ada rasa yang berloncatan di hatiku yang tak bisa kuterjemahkan. Pertanda apakah ini. Mendadak dada sebelah kiriku nyeri.


Kembali ke ambin dan kurebahkan tubuhku. Dingin semakin menggigit dan daun mangga berisik menimbulkan suara aneh lebih mirip elegi. Kutengok sejenak cahaya pabrik itu sebelum akhirnya kupejamkan mataku. Antara sadar dan tidak. Entah mimpi entah nyata, untuk ketiga kalinya lagu Iwan Fals hadir. Hanya saja ini lebih menyayat lagi:


Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langka hewan bernyanyi...


Jombang, 26 Oktober '16



Posted via Blogaway



Read More »

Nama Desaku Lawak Bukan Nglawak

2 komentar






Jadi, jika berkunjung ke desaku, Kawan, pertama kau harus minta turun di pertigaan pasar Tanjung. Setelah itu aku bisa menjemputmu atau kau ngojek sendiri ke arah barat. Sebut saja nama desaku pasti tukang ojek akan mengantarmu sampai tujuan. Desaku tak jauh, sekitar dua atau tiga kilo dari sana. Sebenarnya kau bisa juga turun di pasar Kambangan,  tapi janganlah. Jalan di sana rusak, meski tak parah mungkin akan sedikit membuat kaget pantat kotamu yang lunak. Atau paling parah guncanganya akan membuat perutmu kram. Kau belum terbiasa dengan geronjalan seperti itu, sedang yang demikian itu sudah menjadi bagian dari hidupku sendiri --bagian dari hidup? Manis sekali kedengaranya.


Itu jalur selatan, Kawan. Lewat utara jauh lebih nyaman. Kau bisa mencoba jalan baruku di sana. Kelihatanya sekarang sudah selesai pengecoran. Semoga tahun depan, jika kau ingin berkunjung lagi, kondisinya  tetap sama, mulus dan lancar. Kau tahu, jalan desaku tak pernah bertahan lebih dari dua tahun setelah itu akan pecah dan berlubang di mana-mana. Setidaknya itu dulu. Sekarang kontruksinya bukan main terbuat dari beton, Kawan. Semoga awet sampai beberapa tahun ke depan. Jangan kau berpikir bahwa jalanku gampang rusak karena dibangun dengan ukuran material yang tak proporsional. Itu berarti kau mencurigai perangkat desaku doyan makan material. Itu tidak benar --meski tentu saja kau boleh meragukan perkataanku ini, dan itu wajar karena banyaknya kasus seperti itu di banyak desa. Tapi percayalah, jalanku sulit bertahan karena tekstur tanahnya yang bandel suka jingkrak-jingkrak apa lagi musim kemarau seperti ini. Selalu bergerak dan itu menimbulkan banyak badan jalan yang pecah. Kalau kau tidak hati-hati bisa terperosok di sana.


Dari tanjung lurus saja ke barat. Kau akan menemui jalan bercabang di sana, seperti huruf 'y'. Pilih arah ke kiri dan kau akan masuk dusun Kalongan, dusun yang lumayan besar yang masih bagian dari desaku. Lurus saja. Tak sampai lima menit kau akan masuk di dusun Dongpoh, juga bagian dari desaku. Jika kau lihat sebuah rumah dengan halaman yang dipenuhi motor dan banyak orang di dalamnya, itu warung kopi Lore Kali yang beberapa waktu lalu sempat kuceritakan padamu. Terserah kau mau mampir ngopi dulu, atau lurus saja ke rumah.


Sampai di sini apa kau masih tertarik melanjutkan perjalananmu? Mungkin kau akan bertanya-tanya apa uniknya desa ini? Kau mencoba menebak-nebak mana sungai Lamong itu, mana hamparan tembakau itu, mana alam yang permai itu. Semua yang telah kuceritakan padamu sebisa mungkin kau berusaha menemukanya, setidaknya kau mencoba meyakinkan diri bahwa aku tak bohong. Memang aku tak bohong, Kawan. Aku sudah bilang sebelumnya padamu itu dulu. Dulu sekali.


Tentang tembakau, kau harus mengerti, kau tahu bagaimana musim sudah tidak bisa di namai. Sebut saja kemarau, tapi hujan datang juga sebelum waktunya. Penduduk yang sudah terlanjur menanam tembakau kini harus rela jika tanamanya tenggelam dalam genangan air. Besoknya atau lusa, pasti busuk dan tentu saja mati. Baik, kemarau sudah selesai. Musim hujan barang kali sudah tak sabar menghijaukan bumi. Para petani menanam jagung. Sampai tanaman setinggi lutut musim masih stabil. Tiba saatnya jagung berbuah, langit seolah menahan hujanya beku menggantung di awan. Tanaman layu dan akhirnya meranggas. Petani tak bisa berbuat apa-apa, kecuali meredam gejolak jiwanya. Saat-saat seperti ini kau akan menemuai warung kopi tadi penuh sesak oleh mereka. Maklum, kawan, kopi akan sedikit mendinginkan kepala mereka.


Itu alasan kenapa kau tak menemui barang sebatang pun tanaman di kiri kanan sepanjang perjalananmu dari utara. Kalaupun ada, itu hanya sisa tembakau yang meranggas.
Lurus saja ke selatan, ya, kau akan melewati sebuah jembatan. Jembatan yang tak seberapa panjang memang, mungkin lima belas atau dua puluh meter terlentang di atas aliran sungai Lamong. Kali Lamong? Kali bersejarah itu? Kau geleng-geleng sekali lagi mencoba mencari kebenaran tuturku. Biasa saja. Ya, memang tidak ada yang istimewa sama sekali sekarang. Ya, seperti yang kau saksikan sendiri. Aku tak mencoba menceritakan banyak hal tentang Kali ini di sini. Sebaiknya kau cepat sampai dan kita akan ngobrol sembari ngopi. Ini lebih baik dan pas untuk membahas kali, maksudku kali yang sedikit bernilai sejarah ini.


Sekilas memang tampak kumuh. Jika kau menyaksikan dari atas jembatan memang yang terlihat hanya lumut kering yang mulai mengelupas dari bebatuan di bawah sana, terapung seperti mayat dalam kubangan air keruh.


Meski tinggal kubangan-kubangan, sepertinya kemarau akan menyedotnya juga. Maka setiap pagi seolah-olah berlomba cepat dengan datangnya matahari, mereka saling berebut tatakan di bantaran untuk meletakan mesin diesel mereka. Ya, begitulah, Kawan, hidup memang haruslah terus diperjuangkan.


Kenyataan bahwa sungaiku tak seindah apa yang kau bayangkan itu benar adanya. Kau mungkin terlanjur membayangkan sungai-sungai yang ada pada lukisan atau dalam dongeng-dongeng nenek moyang. Dan aku yakin kau tak akan menemukanya meski kau telusuri hutan seluruh Nusantara. Biarlah itu tinggal kenangan dan jika kita merindukanya kita cukup memejamkan mata sejenak, maka gambar itu akan hadir terpampang jelas, di kepala kita tentu saja.


Baiklah, sedikit akan kuceritakan di sini dan selebihnya di warung kopi saja. Dulu sungai ini cukup indah dengan alirnya yang jernih menyegarkan. Petani-petaninya segar bugar seperti tanamanya yang ranum menggoda. Sawah-sawahnya tak kurang sesuatu apa pun, terus menghasilkan pangan yang berkualitas. Pipa-pipa air menjulur gemuk hingga daratan tinggi sekalipun, dan tak perlu hawatir tak kebagian jatah. Sekarang, untuk mengairi satu guludan saja mereka harus berantem dulu dengan tetangga.


Meski banyak cobaan, Lamong tetap sabar dan berusaha keras mensejahterakan petani-petaninya. Seperti ibumu yang selalu menyusuimu waktu kecil, Lamong tetap setia mengairi sawah mereka --meski cuma kalas-kalas. Dan jika kau berhenti menyusu ibumu kala dewasa, tidak bagi Lamong. Ia terus saja memeras mata airnya (jika kurang dramatis kau boleh menyebutnya air mata). Benar, ia memilih berjuang hingga tetes air mata terakhir. Perkara ia akan mati di tangan pabrik-pabrik, semoga jangan. Aku tak bisa membayangkan itu, Kawan. Aku tak bisa membayangkan ia berubah menjadi anus pabrik yang menampung kotoran-kotoran untuk selanjutkan dengan pasrah ia akan menyeretnya ke lautan. Anus menjijikan.


Sayang kenapa kau baru datang sekarang? Ketika semua yang kami miliki terancam musnah. Modernisasi dengan wacana-wacana bodoh industrinya, juga perkotaan padat penduduk namun miskin semua. Apa? Maaf, Kawan. Begini saja, niatkan kunjunganmu ini untuk ngopi saja. Ngopi juga baik untuk agenda liburan, bukan? Tak perlu kau anggap serius perkataanku waktu itu. Anggap saja aku mengigau atau apalah waktu itu. Aku benar-benar baru sadar tak seharusnya aku banggakan sungai yang sekarat ini.


Ah, coba dua puluh tahun yang lalu kau datang ke sini, (Hah, aku bercanda, saat itu aku masih kecil dan tentu belum mengenalmu) ketika kali masih jernih dengan ikan lalu-lalang di dasarnya. Penduduk desa memandikan ternaknya di bawah jembatan dan anak-anak kelingsiran di sampingnya membuat takut ternak mereka. Ini masa-masa seru sekali, Kawan. Saat itu kerbau sapi masih memadati jalan, dan jika kau tak hati-hati berjalan maka kakimu akan terperosok menginjak bubur nabi Sulaiman. Apa itu? Nanti saja aku ceritakan, ok!


Terlalu panjang, ya? Sebaiknya aku selesaikan sampai di sini saja. Baiklah, melewati jembatan kau lurus saja ke arah selatan. Sampailah kau di desa Lawak (bukan Nglawak seperti yang kau katakan) Kau tak tertawa, kan? Lagi pula aku tak sedang ngelawak. Jangan kau bayangkan penduduk di sini pada ahli ber-stand up. Lawak, itu saja, meski  konon ada yang bilang nama desa ini dulunya Luwansa. Luwansa? Nanti saja ceritanya. Baik sampai ketemu nanti, Kawan!


Jombang, 20 November 2016



Posted via Blogaway



Read More »

Mulai Hidup dengan Secangkir Kopi

1 komentar

Sudah menjadi ritual pagi, duduk menghadap jendela ditemani secangkir kopi. Udara segar yang menerobos masuk juga sinar mentari adalah energi. Perpaduan pagi yang sempurna.



Read More »