Nama Desaku Lawak Bukan Nglawak






Jadi, jika berkunjung ke desaku, Kawan, pertama kau harus minta turun di pertigaan pasar Tanjung. Setelah itu aku bisa menjemputmu atau kau ngojek sendiri ke arah barat. Sebut saja nama desaku pasti tukang ojek akan mengantarmu sampai tujuan. Desaku tak jauh, sekitar dua atau tiga kilo dari sana. Sebenarnya kau bisa juga turun di pasar Kambangan,  tapi janganlah. Jalan di sana rusak, meski tak parah mungkin akan sedikit membuat kaget pantat kotamu yang lunak. Atau paling parah guncanganya akan membuat perutmu kram. Kau belum terbiasa dengan geronjalan seperti itu, sedang yang demikian itu sudah menjadi bagian dari hidupku sendiri --bagian dari hidup? Manis sekali kedengaranya.


Itu jalur selatan, Kawan. Lewat utara jauh lebih nyaman. Kau bisa mencoba jalan baruku di sana. Kelihatanya sekarang sudah selesai pengecoran. Semoga tahun depan, jika kau ingin berkunjung lagi, kondisinya  tetap sama, mulus dan lancar. Kau tahu, jalan desaku tak pernah bertahan lebih dari dua tahun setelah itu akan pecah dan berlubang di mana-mana. Setidaknya itu dulu. Sekarang kontruksinya bukan main terbuat dari beton, Kawan. Semoga awet sampai beberapa tahun ke depan. Jangan kau berpikir bahwa jalanku gampang rusak karena dibangun dengan ukuran material yang tak proporsional. Itu berarti kau mencurigai perangkat desaku doyan makan material. Itu tidak benar --meski tentu saja kau boleh meragukan perkataanku ini, dan itu wajar karena banyaknya kasus seperti itu di banyak desa. Tapi percayalah, jalanku sulit bertahan karena tekstur tanahnya yang bandel suka jingkrak-jingkrak apa lagi musim kemarau seperti ini. Selalu bergerak dan itu menimbulkan banyak badan jalan yang pecah. Kalau kau tidak hati-hati bisa terperosok di sana.


Dari tanjung lurus saja ke barat. Kau akan menemui jalan bercabang di sana, seperti huruf 'y'. Pilih arah ke kiri dan kau akan masuk dusun Kalongan, dusun yang lumayan besar yang masih bagian dari desaku. Lurus saja. Tak sampai lima menit kau akan masuk di dusun Dongpoh, juga bagian dari desaku. Jika kau lihat sebuah rumah dengan halaman yang dipenuhi motor dan banyak orang di dalamnya, itu warung kopi Lore Kali yang beberapa waktu lalu sempat kuceritakan padamu. Terserah kau mau mampir ngopi dulu, atau lurus saja ke rumah.


Sampai di sini apa kau masih tertarik melanjutkan perjalananmu? Mungkin kau akan bertanya-tanya apa uniknya desa ini? Kau mencoba menebak-nebak mana sungai Lamong itu, mana hamparan tembakau itu, mana alam yang permai itu. Semua yang telah kuceritakan padamu sebisa mungkin kau berusaha menemukanya, setidaknya kau mencoba meyakinkan diri bahwa aku tak bohong. Memang aku tak bohong, Kawan. Aku sudah bilang sebelumnya padamu itu dulu. Dulu sekali.


Tentang tembakau, kau harus mengerti, kau tahu bagaimana musim sudah tidak bisa di namai. Sebut saja kemarau, tapi hujan datang juga sebelum waktunya. Penduduk yang sudah terlanjur menanam tembakau kini harus rela jika tanamanya tenggelam dalam genangan air. Besoknya atau lusa, pasti busuk dan tentu saja mati. Baik, kemarau sudah selesai. Musim hujan barang kali sudah tak sabar menghijaukan bumi. Para petani menanam jagung. Sampai tanaman setinggi lutut musim masih stabil. Tiba saatnya jagung berbuah, langit seolah menahan hujanya beku menggantung di awan. Tanaman layu dan akhirnya meranggas. Petani tak bisa berbuat apa-apa, kecuali meredam gejolak jiwanya. Saat-saat seperti ini kau akan menemuai warung kopi tadi penuh sesak oleh mereka. Maklum, kawan, kopi akan sedikit mendinginkan kepala mereka.


Itu alasan kenapa kau tak menemui barang sebatang pun tanaman di kiri kanan sepanjang perjalananmu dari utara. Kalaupun ada, itu hanya sisa tembakau yang meranggas.
Lurus saja ke selatan, ya, kau akan melewati sebuah jembatan. Jembatan yang tak seberapa panjang memang, mungkin lima belas atau dua puluh meter terlentang di atas aliran sungai Lamong. Kali Lamong? Kali bersejarah itu? Kau geleng-geleng sekali lagi mencoba mencari kebenaran tuturku. Biasa saja. Ya, memang tidak ada yang istimewa sama sekali sekarang. Ya, seperti yang kau saksikan sendiri. Aku tak mencoba menceritakan banyak hal tentang Kali ini di sini. Sebaiknya kau cepat sampai dan kita akan ngobrol sembari ngopi. Ini lebih baik dan pas untuk membahas kali, maksudku kali yang sedikit bernilai sejarah ini.


Sekilas memang tampak kumuh. Jika kau menyaksikan dari atas jembatan memang yang terlihat hanya lumut kering yang mulai mengelupas dari bebatuan di bawah sana, terapung seperti mayat dalam kubangan air keruh.


Meski tinggal kubangan-kubangan, sepertinya kemarau akan menyedotnya juga. Maka setiap pagi seolah-olah berlomba cepat dengan datangnya matahari, mereka saling berebut tatakan di bantaran untuk meletakan mesin diesel mereka. Ya, begitulah, Kawan, hidup memang haruslah terus diperjuangkan.


Kenyataan bahwa sungaiku tak seindah apa yang kau bayangkan itu benar adanya. Kau mungkin terlanjur membayangkan sungai-sungai yang ada pada lukisan atau dalam dongeng-dongeng nenek moyang. Dan aku yakin kau tak akan menemukanya meski kau telusuri hutan seluruh Nusantara. Biarlah itu tinggal kenangan dan jika kita merindukanya kita cukup memejamkan mata sejenak, maka gambar itu akan hadir terpampang jelas, di kepala kita tentu saja.


Baiklah, sedikit akan kuceritakan di sini dan selebihnya di warung kopi saja. Dulu sungai ini cukup indah dengan alirnya yang jernih menyegarkan. Petani-petaninya segar bugar seperti tanamanya yang ranum menggoda. Sawah-sawahnya tak kurang sesuatu apa pun, terus menghasilkan pangan yang berkualitas. Pipa-pipa air menjulur gemuk hingga daratan tinggi sekalipun, dan tak perlu hawatir tak kebagian jatah. Sekarang, untuk mengairi satu guludan saja mereka harus berantem dulu dengan tetangga.


Meski banyak cobaan, Lamong tetap sabar dan berusaha keras mensejahterakan petani-petaninya. Seperti ibumu yang selalu menyusuimu waktu kecil, Lamong tetap setia mengairi sawah mereka --meski cuma kalas-kalas. Dan jika kau berhenti menyusu ibumu kala dewasa, tidak bagi Lamong. Ia terus saja memeras mata airnya (jika kurang dramatis kau boleh menyebutnya air mata). Benar, ia memilih berjuang hingga tetes air mata terakhir. Perkara ia akan mati di tangan pabrik-pabrik, semoga jangan. Aku tak bisa membayangkan itu, Kawan. Aku tak bisa membayangkan ia berubah menjadi anus pabrik yang menampung kotoran-kotoran untuk selanjutkan dengan pasrah ia akan menyeretnya ke lautan. Anus menjijikan.


Sayang kenapa kau baru datang sekarang? Ketika semua yang kami miliki terancam musnah. Modernisasi dengan wacana-wacana bodoh industrinya, juga perkotaan padat penduduk namun miskin semua. Apa? Maaf, Kawan. Begini saja, niatkan kunjunganmu ini untuk ngopi saja. Ngopi juga baik untuk agenda liburan, bukan? Tak perlu kau anggap serius perkataanku waktu itu. Anggap saja aku mengigau atau apalah waktu itu. Aku benar-benar baru sadar tak seharusnya aku banggakan sungai yang sekarat ini.


Ah, coba dua puluh tahun yang lalu kau datang ke sini, (Hah, aku bercanda, saat itu aku masih kecil dan tentu belum mengenalmu) ketika kali masih jernih dengan ikan lalu-lalang di dasarnya. Penduduk desa memandikan ternaknya di bawah jembatan dan anak-anak kelingsiran di sampingnya membuat takut ternak mereka. Ini masa-masa seru sekali, Kawan. Saat itu kerbau sapi masih memadati jalan, dan jika kau tak hati-hati berjalan maka kakimu akan terperosok menginjak bubur nabi Sulaiman. Apa itu? Nanti saja aku ceritakan, ok!


Terlalu panjang, ya? Sebaiknya aku selesaikan sampai di sini saja. Baiklah, melewati jembatan kau lurus saja ke arah selatan. Sampailah kau di desa Lawak (bukan Nglawak seperti yang kau katakan) Kau tak tertawa, kan? Lagi pula aku tak sedang ngelawak. Jangan kau bayangkan penduduk di sini pada ahli ber-stand up. Lawak, itu saja, meski  konon ada yang bilang nama desa ini dulunya Luwansa. Luwansa? Nanti saja ceritanya. Baik sampai ketemu nanti, Kawan!


Jombang, 20 November 2016



Posted via Blogaway



2 komentar: